Cara ekspresi terbaik yang bisa dipakai orang-orang yang terlibat percakapanadalah mengekspresikan pemikiran dengan jalan pintas tanpa berbelit-belit. Tapi, itu bukan berarti berbicara dengan sangat cepat dan tergesa-gesa bisa membuat seseoranglebih cepat dan menemukan jalan pintas untuk mengekspresikan fikirannya danmembuktikan diri sebagai pembicara yang bagus. Yang paling impresif bukan lah orangyang berbicara dengan kecepatan tertinggi, tapi orang yang yang berbicara dengan jelas,dengan memikat, dan dengan kepercayaan diri. Karena itu, jangan berfikiran untuk memuntahkan segala pemikiran dalam waktu secepat mungkin tapi manfaatkan waktuserasional mungkin untuk mengungkapkan fikiran. Kalau waktunya mendesak, boleh bicara singkat, padat, dan cepat. Kalau ada banyak waktu, ya bicaralah dengan lebihsantai, tenang dan jelas.Kadang, ada pembicara yang tiba-tiba diinterupsi dalam suatu percakapan. Dalamhal seperti ini, si pembicara jangan langsung patah arang, lalu memaksakan pembicaraanke tema yang ia ungkapkan. Jika pembicaraan dihentikan karena ada sesuatu yang lebih penting, ia harus rela menghentikan percakapan dengan tema apa pun. Jika memang adaorang lain yang tertarik dengan subjek percakapannya, tentu ia akan diminta melanjutkan pembicaraan kembali setelah interupsi lewat. Ia bisa kembali mengangkat tema yangsempat terputus. Sebaliknya, jika tidak ada lagi orang yang tertarik pada tema itu setelahinterupsi, lebih baik si pembicara melupakan saja tema yang ia ungkapkan. Ia harussegera mengganti dengan topik baru yang mungkin saja menjadi tema percakapan dalamkelompok. Seorang pembicara yang baik tentu harus bisa mengikuti arah angin, dan bukannya mencoba menentang arus percakapan atau mencoba memonopoli pembicaraan.Lalu, kualitas dasar apa yang harus dimiliki pembicara dalam percakapankelompok kecil seperti ini? Hal pertama yang harus dipelajari adalah bagaimana memilikiketertarikan praktis terhadap situasi di sekitarnya lalu memberikan konsentrasi atau perhatian pada sekitarnya. Seorang penyair memang pandai mengangkat topik tertentulewat bahasanya yang memikat. Tapi, bisa jadi penyair itu bukan pembicara yang baik dalam percakapan kelompok kecil. Itu karena mungkin saja ia tidak terlalu tertarik padatopik mutakhir atau perjuangan hidup individual sehari-hari, meski ia menulis tentang perjuangan semacam itu dalam bentuk puisi. Ia mungkin penyair jenius, tapi ia juga harusterlibat secara personal dalam topik-topik tertentu jika ingin tahu secara menyeluruh ataumenjadi pembicara yang baik. Atau, mungkin juga penyair tadi memandang semua bentuk percakapan kecil sebagai hal yang tidak berguna. Ia merasa waktunya lebih berguna jika digunakan untuk melakukan analisis sendiri atau mencurahkan power fikirannya sendiri daripada digunakan untuk berbicara yang ringan-ringan dengansejumlah kecil orang. Namun, bagi orang-orang kebanyakan, pembicaraan kecil semacamini adalah cara untuk mengetahuii sesuatu. Bisa jadi, mereka bisa memanfaatkan pembicaraan kecil ini untuk saling tukar pandangan dan informasi sehingga bisamelegakan rasa dahaga mereka akan pengetahuan.Hal yang sangat penting bagi orang yang ingin terlibat aktif dalam percakapanadalah tertarik pada orang lain dan lingkungan serta tertarik dalam cara bertukar bicara.Jika tertarik dalam kehidupan dan segala pernik di dalamnya, ia akan dapat denganmudah menemukan penyulut percakapan untuk mengekspresikan opininya. Ia akanmemiliki kecenderungan untuk menerima dan diterima. Ia juga harus bisa menghargaiopini orang lain sambil tetap menghargai opini diri sendiri. Saling penghargaan yangtimbal-balik ini adalah landasan bagi percakapan yang produktif dan berkesinambungan.

 

 

 

Setiap bentuk perasaan lebih tinggi atau perasaan lebih rendah dan sejenisnya akanmembuat komunikasi antara dua pihak menjadi tidak imbang dan tidak menarik. Susahsekali terjadi perbincangan seimbang antara majikan dan pembantu, antara orang yang punya otorita dengan yang sekadar bekerja, antara pemberi utang dengan penerima utang,dan sejenisnya. Yang terjadi adalah satu pihak mengungkapkan sesuatu dan pihak lainmau-tak-mau harus menerimanya. Jika ingin menjadi pembicara yang baik danmendapatkan percakapan yang menarik, kita harus menghilangkan semua kondisikompleksitas seperti yang baru disebutkan di atas. Memang selalu ada hubungansemacam antara boss-majikan, tapi kompleksitas hubungan yang semacam itu harusdisisihkan atau dikurangi hingge mendekati nol. Tidak boleh ada pembedaan sekecil apa pun atas satu pribadi terhadap pribadi lainnya, namun harus ada keharmonisan sempurnaantara dua pribadi atau lebih dalam hal bertukar kata, apresiasi, kritik, dan sejenisnya.Jika ada satu pihak yang tidak didengar, maka percakapan pada dasarnya sudah tidak ada.Topik dalam percakapan harus dimainkan seperti sepakbola yakni dioper dari satu orangke orang lain. Jangan sampai dikotaki hanya di satu atau sedikit orang.

 

3. Terlalu Aktif

 

Kita secara sekilas sudah menyinggung tentang sifat buruk berupa terlalu aktif  berbicara. Orang yang terlalu aktif berbicara akan berusaha memusatkan pembicaraan pada dirinya sendiri. Ia tidak akan berhenti bicara kecuali hanya untuk menarik nafas.Setelah itu, ia memulai lagi segalanya dengan penuh nafsu sehingga seolah-olah oranglain tidak punya apa pun untuk dibicarakan. Jika ada orang seperti ini, yang palingmenyakitkan orang lain adalah semua pembicaraan dan semua ekspresi terpaksa harusditekan habis. Bagi beberapa orang, kondisi hanya mendengar rentetan ucapan orang lainini bisa menjadi tekanan mental dan fisik. Jadi, sikap terlalu aktif berbicara adalah salahsatu sisi negatif yang harus dienyahkan dalam pembicaraan karena bisa memberikantekanan pada pihak tertentu.Memang, orang yang aktif berbicara adalah orang yang mendapat bakatkemampuan berbicara yang patut dihargai. Tapi, jika ia mengekspresikan kemampuan itusecara berlebihan dan melampaui batas, itu juga tidak baik. Pertama-tama, bisa saja setiaporang terpikat lalu memberikan perhatian penuh pada omongannya. Tapi, sesaatkemudian, orang akan mulai sadar bahwa ia itu masuk ke dalam golongan orang yangterlalu banyak bicara. Kalau harus terus mendengar selama periode pembicaraan, orangakan mulai bosan padanya dan bahkan menaruh curiga.Sifat terlalu aktif berbicara hendaknya dijauhi. Jika ingin membangun karakter dan kepribadian yang bagus, kita harus tahu bagaimana mengendalikan lidah pada waktuyang tepat. Orang yang cermat akan cepat tahu kapan ketertarikan pendengar mulai tidak fokus. Ini berarti lampu kuning pertama bagi si pembicara. Maka, ia harus bersedia berhenti sejenak lalu memberi kesempatan pada pihak lain untuk bicara.Pembicara yang terlalu aktif biasanya sudah menyadari kemampuannya itu sejak dini, saat ia merasa menjadi pembicara di antara rekan, pendengar, hingga pengagumnya.Adanya secercah kekaguman itu lalu membuatnya kecanduan. Jika pembicaraannyaditerima orang lain, ia akan merasa berbangga hati. Semakin banyak didengar, semakin bangga ia. Semakin kecanduan akan kebanggaan, semakin banyak ia melakukan pembicaraan. Semakin banyak demikian, semakin banyak pula ia mengupayakan agar

 

 

 

pembicaraan selalu terpusat pada dirinya. Ia berusaha menjadikan dirinya sebagai pusatketertarikan orang lain dalam setiap pembicaraan.Gejala ‘penyakit’ terlalu aktif bicara itu bisa ditemukan pada usia dini. Anak-anak yang bicaranya bagus bisa dipertemukan di dalam satu kelompok untuk saling berbicara.Anak-anak yang bicaranya terlalu aktif tidak akan bisa dipertemukan dalam satukelompok untuk melakukan pembicaraan. Ada kecenderungan masing-masing anak atauorang yang terlalu aktif ini membentuk kelompok pembicaraan sendiri di mana ia bisamenjadi pusat perhatian dan orang lain hanya pasif mendengarnya.Gejala ‘penyakit’ ini bisa dikoreksi sejak usia dini. Namun, jika gejala inidibiarkan tumbuh lalu mengakar dalam kepribadian, ia akan menjadi tipe orang yangdihindari orang lain. Dalam beberapa paragraf sebelumnya, kita sudah menyebut berbicara secara aktif bisa membuat orang disenangi dalam lingkaran-lingkaran pergaulan. Namun, aktif ekstrim dalam pembicaraan adalah hal yang berbeda. Orangyang terlalu aktif berbicara bakal sulit mendapatkan teman sejati. Ada kecenderungan, iaselalu menginginkan korban baru yang mau mendengar segala pembicaraannya sepertikerbau yang dicocok hidung. Karena sadar bahwa teman-teman akan menghindarinya,maka ia akan selalu memburu wajah-wajah baru sebagai mangsa.Sifat terlalu aktif bicara ini tak ubahnya seperti penyakit –yang sebenarnya bisadisembuhkan dalam usia dini melalui langkah-langkah kuat yang ditegaskan orang tua,guru, atau pengasuhnya. Sifat demikian ini, jika dibiarkan, bisa menghancurkankepribadian seseorang. Seberapa pun tinggi pendidikannya, ia akan langsung tidak dihargai orang lain saat diketahui ia punya penyakit terlalu aktif bicara. Unsur-unsur laindalam pengembangan kepribadiannya tidak akan bisa mengenyahkan dampak penyakitini. Orang yang bagus dalam banyak hal di dalam hidup bisa saja menjadi orang yang penuh kegagalan hanya karena mengumbar kelemahannya sebagai orang yang terlaluaktif berbicara.Dalam kehidupan praktis dan bisnis, sifat terlalu aktif bicara ini juga dibenci.Orang yang terlalu aktif bicara bakal memburu kepuasan dengan terus berbicara tanpatujuan jelas. Orang yang terlalu banyak bicara hanya akan bicara dan terus bicara. Iamenyentuh satu topik tertentu, lalu meninggalkannya begitu saja, kemudian kembali lagi,tanpa motif atau dorongan tertentu. Akibatnya, orang yang diajak bicara menjadi bingunglalu mencampakkan ia begitu saja tanpa memberinya bisnis.

 

4. Cara Bicara yang Buruk

 

Bicara yang buruk ini bukan berarti ada kekurangan dalam power berbicara.Esensi dari ini lebih merujuk pada fakta bahwa ekspresi si pembicara tidak jelas. Kadangia berbicara menggumam, suaranya tak terdengar, bahasanya kacau, atau kondisi tidak  jelas lainnya. Ini membuat orang lain sukar menangkap apa yang sedang ia bicarakan.Saat seseorang mengalami tekanan atau stress tertentu, atau sehabis bekerjaterlalu berat, atau saat benar-benar kelelahan, atau sedang kehabisan nafas setelaholahraga lari cepat, ia butuh menghirup udara segar sehingga akan sulit berbicara dengansikap normal. Saat nafasnya sudah tidak lagi terengah-engah, tentu ia akan kembali bisa berbicara seperti biasanya.Kadang juga terjadi, jika seseorang tidak memberi perhatian khusus pada seni berbicara maka ia mengalami kesulitan berbicara dalam cara berkelanjutan atau

 

 

 

memfokuskan perhatian dalam tempo lama terhadap satu topik tertentu. Akibatnya, lama-kelamaan kata-katanya menjadi tidak terangkai dengan padu dan bagus, kehilanganwarna dan kegairahan, hingga akhirnya cara berbicaranya menjadi ngelantur, tidak lagicerdas, dan tidak enak didengar telinga orang-orang lainnya.Bentuk lain dari cara berbicara yang buruk adalah hasil dari kebiasaan buruk dimasa muda. Ketika masih muda, orang itu biasa bergaul dengan anak-anak sembarangan.Ia jadi terbiasa menggunakan kata-kata

 

slang

 

, penuh umpatan, kasar, dan sejenisnya.Ketika sudah dewasa, tapi ia masih susah menghilangkan kebiasaan buruk itu, maka kata-kata yang keluar dari mulutnya seringkali menyakiti hati orang sekitarnya. Akibat cara bicara yang kurang menyenangkan ini, ia menjadi dihindari oleh masyarakat sekitar.Cara berbicara yang buruk adalah bukan karena kualitasnya tidak bagus tapikarena kurangnya tujuan atau sasaran yang biasa terkandung dalam semua jenis pembicaraan. Saat berbicara, seseorang harus melakukannya sedemikian rupa sehinggaada sesuatu yang bisa disampaikan pada pihak lain. Jika cara penyampaian itu tidak dilakukan dengan baik, artinya jika pihak lain tidak bisa menangkap isi otaknya atausalah memahaminya, maka akan terjadi banya kebingungan sehingga mengikis habistujuan dari pembicaraan itu. Jadi, saat pembicaraan tertentu –baik di depan publik maupun pribadi– gagal mencapai target berupa respons yang diharapkan, maka kita bisasimpulkan bahwa pembicaraan itu buruk atau tidak efektif. Meski demikian, ini bukan berarti semua pidato atau pembicaraan atau percakapan akan selalu berhasil. Bahkandalam pembicaraan yang tiak bisa diterima pun, isi pembicaaan akan tetap dihargai jika si pembicara bisa melontarkan ide-idenya dengan cara terbaik.Cara berbicara yang buruk atau tidak efektif bisa berbentuk mermacam-macamtipe. Misalnya; bicara yang tanpa tujuan, bicara yang tanpa jeda, bicara yang diulang-ulang, bicara yang tergesa-gesa, bicara yang bahasanya asal-asalan, bicara yanglogikanya tidak jalan, bicara yang suaranya terlalu lirih atau terlalu keras, bicara yangtidak sesuai kondisi lingkungan, dan lain-lain.Mari kita kaji kasus berbicara yang buruk terkait dengan cara bicara yangmengulang-ulang alias redudansi. Orang yang suka mengulang-ulang tema tertentu ataukata-kata tertentu dalam suatu pembicaraan bisa menimbulkan kesan bahwa ia orangyang tidak berfikir efektif. Karena menggunakan kata atau tema yang lebih banyak daripada yang dibutuhkan, ia bakal terkesan susah menemukan poin pembicaraan dalamwaktu sesingkat mungkin –dan kadang malah tidak bisa menemukan poin pembicaraanitu sama sekali. Cara berbicara yang berulang-ulang itu mungkin didapatkan karenakebiasaan buruk sejak usia dini. Jika tidak mendepak jauh kebiasaan itu, ia akan kesulitan berkomunikasi karena tidak bisa sepenuhnya diterima orang normal di sekitarnya.Cara untuk mengenyahkan kebiasaan itu adalah mengendalikan diri untuk berlatihmemberikan jawaban seminim mungkin semisal ‘ya’ atau ‘tidak’ saja. Kalau bisa dilatihsecara terkontrol, ia akan kagum betapa kalimat pendek itu bisa membantunya dalamhidup terkait semua percakapan dan bisa menyelamatkannya dari duel kata-kata yangfatal. Jika bisa mempraktikkan diri menghargai kata-kata pendek ‘ya’ atau ‘tidak’, ia bakal bisa mempelajari nilai dahsyat dari kata dan waktu. Maka, saat inginmengungkapkan pandangan atau ide lebih lebar, ia akan menggunakan kata-kata yanghemat dan waktu yang seefektif mungkin.Lawan kata dari redudansi adalah bicara yang terlalu disingkat-singkat sependek mungkin. Orang yang demikian akan sangat pelit bicara, dan pilihan kata-katanya sangat

 

 

 

pendek dan terbatas sehingga penjelasan dari suatu ide bakal sangat kurang. Cara bicaraseperti ini juga tidak disukai orang lain karena juga sulit dimengerti. Dalam kasusekstrim, ini bisa menjurus ke perilaku kasar.Menjaga diri untuk menghemat kata-kata seefektif mungkin jelas beda denganmemberikan jawaban monoton terhadap semua pertanyaan atau menghindari jawabandari pertanyaan substansial. Yang pertama itu baik, yang kedua itu kurang baik.Berbicara ‘

 

straight to the point

 

’ memang bagus untuk kondisi tertentu, tapi kondisi lain juga membutuhkan sekadar basa-basi atau penghormatan. Bicara yang pendek dan cepat,seperti perintah atau komando dalam militer, boleh-boleh saja dilakuan saat dalam situasieksekusi memburu sasaran tertentu –dan bukannya saat ingin menjelaskan sesuatu. Namun, dalam masyarakat secara umum, gaya bicara seperti itu akan menimbulkan kesantidak enak pada orang yang diajak bicara. Mungkin pihak lain akan merasa diperintah- perintah atau bahkan dibentak-bentak.Tapi, ada sejumlah kecil orang yang beranggapan berbicara pendek dan kerassemacam itu bertujuan untuk menunjukkan kewibawaan dan intelijensia. Betapakelirunya orang yang beranggapan demikian. Hal-hal besar digerakkan oleh kesabarandan ‘industri’ (kerja keras, terus-menerus, teratur). Hasil terbaik yang bisa didapat darisuatu pembicaraan adalah dengan perpaduan yang tepat antara kesopanan, keberadaban,dan pemahaman atas kondisi lingkungan.

 

5. Cara Bicara yang Defektif

 

Ini terkait dengan cara bicara yang cacat, rusak, atau tidak sempurna. Ada berbagai gradasi dari tipe kekurangan ini. Misalnya; dari kegagapan kecil hingga gagapabsolut, dari sengau kecil hingga bindeng absolut, dan sejenisnya. Tapi, buku ini tidak membahas orang yang bermasalah bicara karena bodoh total atau punya degradasimental.Cara bicara yang defektif ini bisa menjadi kendala di dalam hidup, baik secarasosial maupun karir. Orang yang punya kendala berupa bicara defektif bisa menemuihambatan jika menerjuni profesi-profesi tertentu, semisal; aktor, pengacara, guru, dai,dan sejenisnya. Selain penderitaan batin, orang demikian juga bisa dihinggapi sifatrendah diri yang bakal menghambatnya meraih kemajuan dalam hidup. Namun, jikaorang ini bisa menjaga keberimbangan mental dan mengendalikan sifat agresif, cara bicara yang tidak sempurna ini tidak akan menghalangi ia meraih kesuksesan. Bahkan,kecacatan ini bisa dimanfaatkan untuk meraih kelebihan. Contohnya, ada aktor yangcacat bicara tapi bisa memanfaatkan kecacatan itu sebagai karakter khas dia yang tidak dimiliki aktor lain.Tentang kecacatan berbicara ini, ada pertanyaan besar yang harus dijawab.Apakah orang yang sudah berlatih keras dan lama bisa mengatasi masalah keterbatasanini? Ada kecacatan berbicara yang terkait dengan penyakit klinis –dan buku ini tidak memberikan saran khusus tentang penyembuhannya. Meski demikian, latihan yang rutin,teratur, dan tekun akan memberikan dampak perkembangan besar sehingga ketidak-sempurnaan berbicara ini bisa tampak lenyap atau bahkan benar-benar lenyap.Sebelum mulai menjalani berbagai latihan yang disyaratkan untuk mengurangikecacatan ini, ada faktor-faktor psikologis tertentu yang harus diperhatikan lebih dulu.